Senin, 19 Mei 2014

Mencari Tali Menyambung Silaturahmi



Profesor Ayam

Siang yang terik. Aku tidak tahu harus berbuat apa dalam keheningan ini. Rumahku di atas bukit tentu saja udaranya sejuk meski si raja siang bersinar terang. Kemarin baru saja ada tukang barang bekas lewat ke depan rumah dan ibuku mencegatnya. Ada tumpukan buku-buku tulis bekas aku sekolah di atas lemari. Selama ini hanya jadi pajangan yang tak pantas. Ibu hendak menjualnya ke tukang barang bekas itu. Biasanya di sebut tukang kokorompong.
Betapa besar juga jasanya mengumpulkan barang-barang bekas dari para penduduk atau intansi-intasi untuk dijual ke tukang pengumpul yang nantinya akan dijual ke pabrik pendauran ulang. Setidaknya ikut mengampayanyekan lingkungan bersih disamping dapat uang untuk menafkahi anak istri. Daripada dibuang tidak jelas ke kali dan menyebabkan banjir. Kalau sudah begitu jadinya repot.
Sudah sejak lama sebenarnya ibu ingin menjualnya. Malah sejak dulu-dulu semenjak aku lulus sekolah. tapi aku selalu merasa sayang dan merasa akan membutuhkannya suatu hari nanti. Maklumlah aku pencinta buku dan selalu berharap punya perpustakaan pribadi yang bisa menampung buku-buku bekas. Rasanya kapanpun buku itu terbit mau jadul atupun baru semuanya sama penting untuk menambah pengetahuan kita dan mempelajarinya. Tapi setelah dipikir-pikir kembali ya sudahlah. Perpustakaannya juga masih mimpi. Tapi insya Allah suatu saat nanti aku pasti akan mendirikannya. Aku yakin pada mimpiku ini. Aku juga ingin turut serta mencerdaskan bangsaku tercinta ini. Lagipula kebanyakannya buku-buku tulis waktu MI atau setaraf SD. Yang tulisannya masih seperti cakar ayam yang tidak jelas dan bikin pusing saat bacanya. Aku juga selalu tertawa-tawa jika ada kesempatan membacanya. Dan buku-buku LKS waktu MTS yang sekali pakai dan setiap semesternya pasti ganti.
Akhirnya setelah kupilih-pilih dulu sebentar dan mengambil yang dirasa pasti butuh atau buat koleksi, barang-barang bekas itu dikilo dan hanya dapat kurang lebih sepuluh kilo dan dapat uang sepuluh ribu. Lumayan buat tambah-tambah uang dapur ibu. Bagiku ada sebuah kesimpulan dari hal ini. Betapa seorang yang tidak begitu tinggi taraf pendidikannya cenderung tidak menganggap penting fasilitas atau alat-alat pendidikan. Contohnya ibu yang hanya tamat SD tidak tahu jika jenderal Ahmad Yani itu pahlawan bangsa indonesia dan hampir saja buku tentang kisah hidupnya yang dikarang oleh istrinya sendiri terjual ke tukang kokorompong. Dan banyak lagi yang akhirnya bisa kuselamatkan terlebih dahulu. Seperti diawal aku selalu merasa bahwa semua itu penting. Sama pentingnya dengan kitab-kitab atau buku klasik karya para ulama terdahulu yang tak terpakai dan tergeletak begitu saja sampai berdebu dan banyak yang digrogoti kutu buku. Semuanya penting. Ilmu pengetahuan itu penting. Bukan hanya ilmu agama yang sudah pasti wajib dipelajari tapi seluruh ilmu pengetahuan. Seperti sebuah keterangan; “Jika ingin dunia maka harus dengan ilmunya. Jika ingin akhirat maka harus dengan ilmunya. Dan jika ingin keduanya, maka dengan ilmunya.” Seperti dalam setiap do’a yang dipanjatkan setiap usai shalat untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Setelah satu hari aku membiarkan buku-buku hasil filterisasi itu (he..he..) aku melihat-lihat ada buku apa saja. Cukup menarik. Semuanya yang aku senangi. Ada buku paket matematika yang mengingatkanku pada sebagian mimpimku yang pupus dan diganti dengan mimpi yang baru. Juga mengingatkanku pada sosok guru yang cantik alami tanpa make up dan anggun dengan pakainan dinasnya yang longgar seperti jubah juga kerudung besarnya. Beliau senantiasa mengajar penuh senyuman dan nasihat-nasihat menawan. Bukan sekedar menjejali pikiran denga rumus-rumus geometri, trigonometri, kalkulus dll yang rumit, tapi juga menyegarkan rohani dengan rumus-rumus kehidupan. Bagi beliau murid-muridnya bukan hanya harus cerdas sercara intelegensial tapi juga harus cerdas spritual dan emosional. Karena kebanyakan pemimpin saat ini yang korup itu tidak sempurna kecerdasannya.
Aku suka matematika. Meskipun aku mengambil jurusan bahasa tapi tetap matematika selalu jadi pelajaran favorit. Dan nilaiku selalu memuaskan. Teman-temanku selalu merasa aneh kenapa aku tidak mengambil jurusan IPA. Waktu kelas satu aku memang suka biologi, fisika, kimia dan matematika. Dan nilai-nilaiku tidak bisa dikatakan jelek dalam pelajaran-pelajaran logika itu. Malah sempat ada guruku yang mengira aku akan mengambil jurusan IPA nanti saat kelas dua. Tapi pilihanku malah jatuh pada kelas Bahasa. Kelas minoritas dan kurang peminatnya. Sebagian karena tidak suka pelajaran bahasa inggris dan bahasa arab. Sempat terpikir untuk masuk IPS. Sebab aku menyukai ilmu sejarah, geografi dan sosiologi. Tapi aku kurang suka terhadap ekonomi dan akuntasi. Meski aku suka pada matematika anehnya aku benci dua pelajaran itu. Padahal tidak ada bedanya dengan matematika tentang hitung- menghitung. Tidak tertarik saja untuk mempelajarinya lebih dalam lagi.
Kenapa bahasa? Karena aku suka sekali bahasa. Terutama bahasa inggris. Aku ingin mempelajari dan menguasainya sejak kecil. Lagu-lagu yang sering aku dengarkan selalu dalam bahasa inggris. Film-film yang suka aku tonton pun selalu yang berbahasa inggris. Sudah sejak kecil aku terbiasa membaca tulisan di bawah layar TV yang kebanyakan orang enngan membacanya. Katanya pusing tidak bisa konsentrasi pada adegan-adegannya. Kalau aku sudah terbiasa jadi sudah enak saja. Kesukaanku pada bahasa mungkin karena mimpiku yang ingin keliling dunia. Menganal dunia yang sering aku saksikan di TV dan berita-berita. Sepertinya akan banyak hal yang menarik jika aku bisa mengelilingi dunia. Dan bekalnya mungkin aku harus pintar berbahasa. Makanya seluruh bahasa aku sukai dan ingin mempelajarinya. Di kelas bahasa aku bisa mempelajari empat bahasa. Bahasa indonesia tentunya, bahasa inggris, bahasa arab, dan bahasa korea sebagai muatan lokalnya. Yang kupelajari secara otodidak adalah bahasa jepang dan china. Yang lainnya aku juga sempat berkeinginan. Tapi karena waktuku rasanya terlalu padat. Baiknya harus satu-satu dulu. Dan kenyataanya saat ini, aku tidak juga menguasai kesmuanya itu secara seratus persen. Hanya bahasa arab dan bahasa inggris saja. Itu pun hanya dalam masalah penerjemahan. Untuk bicara aku tidak cakap. Bahasa korea hanya sampai bisa menerjemahkan tulisannya tanpa bisa artinya. Sebab apa? Aku tidak melanjutkan semua itu ke jenjang pendidikan lebih lanjut. Menjadi guru bahasa inggris adalah sebagian mimpiku yang sudah tidak mungkin kugapai lagi. Hanya mengingatkanku saja pada guru bahasa inggris di kelas yang namanya sama dengan namaku. Saat itu aku masih kelas satu dan sedang ujian semester. Seperti biasa peserta ujian selalu digabung dengan kelas-kelas lain dan diawasi oleh guru-guru berbeda. Dan saat itu pelajaran bahasa inggris dan guru pengawas melihat namaku diatas kertas jawaban. Dan beliau bilang semoga aku juga mengikuti jejaknya seperti beliau. Saat itu munculah semangat dan rasa percaya diri jika aku akan menjadi guru bahasa inggris atau sejenisnya. Tapi takdir berkata lain. Aku jadi lebih menguasai bahasa arab dan mempelajari ilmu bahasa dan kesusastreaan bahasa arab secara spesifik di pesantren. Mimpiku ternyata bermuara disana. Dan entah masih akan ada kesempatan untuk meraihnya.
Masih ada mimpiku yang lain. Alasan kedua aku masuk bahasa karena aku suka membaca dan menulis. Di bahasa aku diajarkan tentang kesusatreaan bahasa indonesia dan banyak mempelajari buku-buku sastra. Aku juga jadi mengenal sosok sastrawan indonesia yang mendunia dan menjadi pahlawan di era-era pergerakan dan kemerdekaan. Mereka dapat mengubah bangsa dan menjadi pahlawan karena tulisan mereka. Mereka juga dikenal dunia karena tulisan mereka. Bukankah ada sebagian mimpiku yang ingin berkeliling dunia, mengenal dunia? Bahkan mungkin deikenal dunia. Seperti kata pramoedia ananta noer ;”Jika ingin mengenal dunia, membacalah! Dan jika ingin dikenal dunia, menulislah.” Dan sejak di bahasa aku semakin menyukai bacaan. Tempat favoritku adalah perpustakaan, tempat rental buku, dan toko bulu. Aku juga suka tulis-menulis. Meski baru berani dalam diary. Tapi sautu saat nanti aku yakin aku pasti bisa jadi penulis dan dikenal dunia. Aamiin!
Dari kesuakaanku dalam dunia kesusatreaan aku dapat menyelamatkan foto kopi dua naskah drama karya putu wijaya dan pramoedi ananta noer. Aku juga menyelamatkan foto kofi buku sejarah yang juga sangat aku sukai. Sebab sejarah juga kisah. Malah kisah nyata tentang orang-orang di masa lalu dengan penderitaan dan perjuagannya hingga mereka sukses. Sejarah dunia islam yang paling utama aku sukai. Karena dengan memepelajari sejarah tentang dunia islam di masa lalu kita mungkin bisa mengambil pelajaran penting untuk mengatasi masalah di dunia islam di masa kini. Dulu islam pernah merajai dunia, dan kenapa sekarang islam selalu saja terpuruk dan diangap teroris. Dunia ilmu pengetahuan seluruhnya milik orang-orang islam. Tapi kenapa sekarang anak-anak muslim tidak tahu dan malah membanggakan ilmuan-ilmuan kafir yang telah mencuri ide ilmuan-ilmuan muslim? Dan aku selalu ingat pepatah: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya.” Aku ingin melihat islam yang kembali menguasai dunia ini lagi.
Kemudian apa hubungannya dengan judul Profesor Ayam di depan? Ini juga masih menyangkut hal-hal yang aku senangi. Dari SD aku sudah senang menulis diary. Ada buku-buku tulis yang aku jadikan diary saat SD. Sengaja bukan buku diary yang khusus agar tidak kentara jika buku itu berisi segala curhatanku kepada buku. Seperti buku tulis layaknya buku tulis pelajaran. Aku tertawa-tawa membaca tulisan-tulisan tidak jelas dan banyak yang tidak nyambung. Namanya juga anak SD yang belum bisa membedakan dimana harus jeda dan mulai. Kata-katanya juga amburadul tapi bisa dipahami karena temanya jelas. Ada halaman dimana aku sedang merindukan teman-temanku di MI. Berarti saat meenulisnya aku baru masuk MTS. Aku menulis daftar teman-temanku sekelas terkhir di kelas 6. Ada 24 orang siswa. Hanya sebagian yang masih aku ingat, tapi yang lainya aku lupa jika aku pernah mengenal nama-nama itu. Semuanya mengingatkanku kepada sosok-sosok dari ke-24 nama itu. Hanya beberapa orang yang masih aku ketahui dimana mereka. Yang sebagian besarnya aku tidak tahu bagaimana nasib hidup mereka dan dimana mereka saat ini. Aku belum pernah bertemu mereka lagi sejak di MTS. Dan aku teringat si Profesor Ayam. Anak laki-laki yang kecil, pendek dan imut. Nama aslinya Kurniawan. Tapi karena dia pintar dan lumayan jenius dan sering melucu maka dikenal dengan profesor ayam. Entah bagaimana kabarnya anak itu. Mungkin sudah jadi profesor. Dia termasuk teman dekat aku waktu SD. Meski aku seorang perempuan tapi aku lebih suka berteman dengan anak laki-laki. Karena mereka tidak ribet seperti cewek. Tidak mudah cengeng dan demokratis. Mau berteman dengan siapa saja boleh. Pengetahuan mereka juga banyak dan selalu aneh-aneh. Aku bisa banyak tahu hal baru dari mereka. Hm... aku merindukan si Profesor Ayam. Bagaimana kabarnya dia? Masa profesor tidak punya facebook atau e-mail?!
Untuk proesor Ayam. I miss you! Aku harap kita bisa bertemu dalam waktu yang dekat. Tidak lain untuk menyambungkan tali silaturahmi kita yang sempat terputus. Aamiin!
By : Imustbhappy*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar