Senin, 19 Mei 2014

Catatan Sejarah



Inilah Sejarah

Menurut sebuah keterangan bahwa sejarah terbagi dua, yakni : sejarah yang apa adanya dan sejarah yang seharusnya. Hal ini kudengar dari sebuah acara di televisi lokal. Entah siapa yang mengemukakannya si pembawa acara tidak menjelaskannya. Aku sendiri merasa belum pernah menemukan atau mendengar keterangan ini sebelumnya. Padahal aku termasuk orang yang sedikit tertarik dengan dunia sejarah. Ini jadi pengetahuan baru bagiku. Maksud dari sejarah yang apa adanya menurut pembawa acara itu adalah sejarah yang ditulis atau dituturkan secara apa adanya kisah sejarah itu. Baik dari narasi,
deskripsi atau ilustrasi. Semuanya mengacu pada kenyataan yang terjadi apa adanya di lapangan. Sesuai kategory what, who, when, why dan how. Sedang sejarah yang seharusnya adalah sejarah yang diungkapkan atau dituturkan secara seharusnya mengikuti sejarah yang apa adanya itu. Yaitu melalui sebuah peranan dalam sandiwara atau pementasan drama.
Sejarah yang apa adanya bisa saja keadaanya diapa-apakan. Artinya sejarah bisa saja direkayasa oleh satu pihak untuk kepentingan tertentu. Isi hati sesorang siapa yang tahu. Meskipun dalam penuturannya dilengkapi bukti-bukti yang otentik untuk mendukukng ceritanya. Persepsi orang berbeda-beda. Pandangan orang tidak akan sama dalam melihat suatu peristiwa ataupun tokohnya. Karena dilatar belakangi sesuatu yang tidak diketahui bisa saja tekanan atau paksaan dari sebuah pihak, penilaian orang bisa menjadi berbeda-beda. Tapi jika banyak hal-hal yang dituturkan sama oleh berbagai sumber sejarah tidak mungkin untuk ditolak kebenarannya. Rasanya tidak mungkin semua pihak sengaja bersandiwara atau bermufakat. Apalagi dalam hal keburukan. Maka mayoritas bisa lebih dipertimbangkan kebenarannya. Namun jika kenyataanya semua itu bohong hanya rekayasa semata yang diamini semua orang, ya sudahlah. Namanya juga cerita. Bukankah sejarah juga cerita? Cerita yang terjadi di masa lalu umat manusia. Masa lalu adalah yang telah lalu. Masa sekarang adalah yang sekarang. Yang sedang kita jalani.
Tidak ada artinya lagi jika masih menghidupkan di masa lalu di masa sekarang. Apalagi hanya melahirkan pertikaian dan perselisihan. Generasi-generasi di jamannya saling memperebutkan pangkat era terbaik. Orde lama, orde baru atau reformasi. Semuanya saling membanggakan diri. Dan lucunya orang yang memperdebatkan hal ini adalah rakyat kecil yang kurang pendidikan. Rasanya apa pentingnya bagi mereka? Tidak akan menghantarkan mereka menjadi pejabat di pemerintahan. Apalagi jika sudah diributkan dengan masalah partai politik. Yang namanya politik pasti tengik. Tidak ada kata haram dalam politik. Sampai umpatan dan penistaan keluar dari mulut-mulut mereka. Tidak sadar jika sebenarnya mereka telah menjadi korban politik. Masa lalu biarlah menjadi kenangan yang akan kita lihat sekali-kali untuk bercermin di masa sekarang dan yang akan datang dalam melewati perjuangan meraih semua harapan.
Sejarah adalah kisah yang tertinggal dari masa lalu. Tugas kita adalah meraup kisah itu dan mencongkeli hikmah-hikmah yang terselip atau terkubur dalam setiap kisah. Kita ambil pelajaran berharga yang disampaikan secara tersirat dari suratan-suratan sejarah. Itulah yang terpenting. Bukan sebagai bahan perdebatan yang tidak ada ujungnya. Keburukan-keburukan di masa lalu biarkan menjadi cerminan untuk kita agar tidak mengulanginya kembali. Sedang kebaikan-kebaikan di masa lalu biarkan dikenang untuk dihormati, dihargai, dan diteladani. Betapa kebaikan akan selalu menjadikan setiap orang menjadi pahlawan. Dari presiden yang pertama sampai yang sebentar lagi lingsir kita pelajari saja masa-masa kejayaan mereka. Dibanding-banding bukan untuk mencari mana yang terbaik. Tapi untuk dipelajari sampai mana mereka bisa berkarya yang terbaik untuk bangsa. Semua keburukan mereka janganlah menjadi gunjingan. Allah sudah jelas mengatakan dalam firman-Nya di dalam Al-qur’an, bahwa jangan sekali-kali kita menggunjing orang lain, membicarakan keburukan orang lain atau mencap orang lain buruk. Selama orang itu masih seakidah. Masih saudara kita sebagai muslim. Bukankah membicarakan keburukan saudaranya seperti memakan daging saudaranya itu pula?
Inilah sejarah. Apa adanya bisa saja adanya diapa-apakan. Apakah siswa-siswa sekolah telah dibohongi atau dipermainkan sejarah? Tentu bukan hal itu yang dimaksudkan harus mempelajari sejarah. Pelajaran sejarah dibuat agar peserta didik memiliki semangat juang yang tinggi dalam meraih cita-citanya. Dan mungkin tugas guru pelajaran sejarah untuk dapat menyampaikan hikmah atau membantu murid-muridnya menemukan hikmah-hikmah penting dari sejarah yang berguna untuk kehidupan mereka. Bukan hanya sebagai pengetahuan yang suatu saat dipakai untuk berdebat kusir. Tapi sebagai bekal untuk menjalani hari-harinya di masa yang akan datang. Tokoh-tokoh pahlawan di masa lalu kita hormati dan hargai perjuangan mereka dalam bakti membela negri. Meskipun ada saja kekurangan-kekurangan mereka sehingga berlaku buruk. Namanya juga manusia tidak akan ada yang sempurna. Pemilihan Presiden sebentar lagi. Carilah sosok yang terbaik bukan yang sempurna. Baik agamanya dan juga karyanya. Diharapkan untuk tidak asal memilih. Tapi pelajari dulu tokoh-tokoh calonnya. Untuk Indonesia yang lebih baik sudah saatnya rakyat bangkit. Junjung demokrasi sesungguhnya. Yang bebas tekanan dan propoganda dari pihak lain. Kita buat sejarah. Sejarah yang baik untuk anak-cucu. Sejarah yang nyata kebaikannya dan sesuai kenyataan. Bukan yang apa adanya sampai bisa diapa-apakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar